26 December 2016

Panduan Praktik Klinis PPK - Mata - Konjungtivitis Vernalis

1. ICD : H. 10. 2
2. Nama penyakit / Diagnosis : KONJUNGTIVITIS VERNALIS
3. Krieria Diagnosis :
Subjektif : mata merah, berair, gatal sekali, sekret molor (seperti benang), sering seperti ada pasir
Objektif : hiperemi konjungtiva, sekret mukoserous, sekret seperti lendir (seperti benang) konjungtiva bulbi berwarna keruh dan coklat.
Tipe :
Tipe palpebra : ada papil besar-besar “cobble stone”
Tipe limbal : ada papil dan bintik putih pada limbus “trantas dot”
Tipe campuran : didapatkan kedua gejala diatas
Lab : eosinofil banyak pada hapusan konjungtiva / limbus dengan giemsa
4. Diagnosa banding : konjungtivitis trakhoma
5. Pemeriksaan Penunjang : Pengecatan giemsa
6. Konsultasi : Dr. Mata Divisi infeksi imonologi
7. Perawatan RS : tidak perlu
8. Terapi :
Medikamentosa :
Anti alergi dan vasokontriksi tetes mata (vernacel) 3x/sehari
Asam Chromoglicate tetes mata (conver) 3x/hari
Steroid tetes mata (Xitrol, Trobroson) 3x/hari
Tablet antihistamin, tablet steroid 3x/hari
Operasi :
Indikasi : coblle stone yang besar dan mengganggu
Jenis operasi : exterpasi cobble stone
9. Tempat Pelayanan : SMF Mata
10. Penyulit : keratitis, ulkus kornea, sikatrik kornea
11. Informed consent (tertulis) : Ya, kalau memerlukan operasi
12. Standar tenaga : medis (Sp. M.)
13. Lama perawatan : 1 hari kalau dilakukan eksterpasi
14. Masa pemulihan : 5-7 hari post esksterpasi
15. Output : sembuh / rekuren, akil balik biasanya sembuh sempurna
16. PA : tidak
17. Otopsi / risalah / rapat : tidak
18. Prognosis : tidak
19. Tindak lanjut : -

Panduan Praktik Klinis PPK - Mata - Konjungtivitis Purulenta

1. ICD : H.10.1
2. Nama Penyakit/Diagnosis : KONJUNGTIVITIS PURULENTA
3. Kriteria Diagnosis :
Subjektif : Mata merah, keluar kotoran pus kekuningan, kelopak mata bengkak.
Objektif   : Edema palpebra, hiperemia konjungtiva, sekret purulen.
Penyebab : Neisseria Gonorrhoe, Chlamydia trachomatis
Dibagi : infantile dan adultorum
Lab :
Gram : diplikokus ekstra maupun intraselular
Giemsa : inclusion bodies untuk clamidya
4. Diagnosis Banding : keratokonjungtivitis, ulkus kornea
5. Pemeriksaan Penunjang : smear secret gram, kultur sensitivity test
6. Konsultasi : dokter mata divisi infeksi imunologi
7. Perawatan RS : Perlu, mencegah perforasi kornea.
8. Terapi :
Medikamentosa :
Bilas aquadest sesering mungkin (sekret toilet)
Tetes mata PP 15.000 IU setiap menit satu jam pertama tiap lima menit satu jam berikutnya dan setiap 15 menit sampai bisa membuka mata, selanjutnya tiap jam sampai hasil pemeriksaan gram negatif 3 kali.
Tetes mata pengganti : ofloxasin, levofloxasin
Injeksi PP 100.000 IU per kg bb atau ceftriaxon 25-50 mg/ kgbb intravena
Operasi :
Indikasi : ulkus kornea yang mengancam perforasi
Jenis operasi : flap konjungtiva / amnion graf
9. Tempat Pelayanan : SMF Mata, Poli, Ruangan dan IBS.
10. Penyulit : keratitis, ulkus kornea, perforasi kornea sampai endoftalmitis
11. Informed consent (tertulis) : ya jika memerlukan operasi
12. Standar Tenaga : medis (Sp. M.) subbag infeksi imunologi analis
13. Lama Perawatan : 3-5 hari
14. Masa Pemulihan : 5-7 hari
15. Output : sembuh / sikatri (bila terjadi komplikasi ulkus)
16. PA : tidak
17. Otopsi/Risalah/Rapat : tidak
18. Prognosis : fase awal baik
19. Tindak Lanjut : -

22 December 2016

Panduan Praktik Klinis PPK - Mata - Konjungtivitis

1. ICD : H.10.9
2. Nama Penyakit/Diagnosis : KONJUNGTIVITIS
3. Kriteria Diagnosis :
Subjektif : Mata merah, ada kotoran mata, ngeres-ngeres seperti pasir, kadang-kadang gatal.
Objektif  : Hiperemia konjungtiva, folikel palpebra, kadang-kadang edema kelopak mata, sekret muko-purulen.

Jenis-jenis konjungtivitis :
a. Konjungtivitis hiperakut : purulenta
b. Konjungtivitis bakteri
c. Konjungtivitis alergi
d. Konjungtivitis viral
4.  Diagnosis Banding : - keratitis akut
 - Uveitis akut
 - Glaukoma akut
5. Pemeriksaan Penunjang : Laboratorium : pengecetan gram/giemsa/KOH
6. Konsultasi : Spesialis mata divisi. Infeksi imunologi
7. Perawatan RS : Tidak perlu
8. Terapi Medikamentosa : - Tetes mata antibiotika : seperti neomisin,polimiksin, ciprofloksasin, ofloksasin atau levoflaksasin selama kurang lebih 4/5 hari.
  - vitamin C 500 mg 1x sehari
  - anti inflamasi 2x1 sehari bila disertai edema palpebra
  - Tidak perlu antibiotika sistemik maupun analgetika.
KIE : jaga kebersihan, jangan kena air, pakai kacamata gelap, istirahat yang cukup.
Operasi : Tidak perlu.
9. Tempat Pelayanan : Puskesmas, dokter swasta, RS tipe A,B,C
10. Penyulit : - keratitis punctata superfisialis
 - blefaritis
 - dacriosistis akut
11. Informed consent (tertulis) : Tidak perlu
12. standar tenaga : dokter umum, SpM, SpMK, analis
13. lama perawatan : -
14. masa pemulihan : 4-5 hari (bila tidak ada penyulit)
15. Output : sembuh sempurna
16. PA : tidak
17. Otopsi/risalah/rapat : -
18. prognosis : baik
19. tindak lanjut : -

21 December 2016

Perbedaan / diferensial diagnosis penyakit dengan keluhan mata merah


Mata merah merupakan penyakit yang umum dikeluhkan oleh pasien yang datang ke poliklinik umum atau spesialis mata, untuk lebih memahami dan membedakan diferensial diagnosis mata merah, berikut ini adalah perbedaan masing masing diagnosis penyakit mata merah.




Konjungtivitis akut
Uveitis Akut
Gloukoma akut
Keratitis/ Trauma Kornea
Insiden
Sangat umum
umum
Tidak umum
Umum
Sekret
Sedang-banyak
Tidak ada
Tidak ada
Serous / nanah
Visus
normal
Agak kabur
Sangat kabur
Biasanya kabur
Rasa Sakit
Tidak ada
sedang
Sangat sakit
Sedang-berat
Injeksi konjungtiva
Difuse konjungtiva
perikornea
perikornea
Perikornea
Kornea
jernih
Ada bercak Keratic presipitat
Berawan / keruh
Bercak / keruh
Ukuran pupil
normal
Miosis
Midriasis dan fik
Normal / kecil
Reflek pupil pada cahaya
normal
Kurang
Tidak ada
Normal
Tekanan bola mata
normal
normal
tinggi
Normal
Tes flourensi
negatif
negatif
negatif
Positif pada lesi
smear
Ada kuman penyebab
Tidak ada kuman
Tidak ada kuman
Positif pada infeksi / ulkus
Terapi dasar tetes mata
antibiotik
Atropin, steroid
Carpin 2%
Antibiotik

18 December 2016

Kandungan bahan dalam liquid vape rokok elektronik dan efek yang perlu diketahui sebelum memulainya

Artikel kali ini saya mencoba membahas mengenai kandungan zat-zat yang terkandung dalam liquid vape atau rokok elektronik dan potensi akibat yang ditimbulkannya. Saya sendiri bukan perokok tembakau atau vape, tapi melihat trend di tempat saya yang semakin menjamurnya peredaran vape dan retailer vape dan dijual bebas tanpa adanya regulasi yang jelas, membuat saya tertarik untuk mencari informasi.

tulisan ini didasarkan pada artikel jurnal  Electronic cigarettes: human health effects yang dipublikasikan di jurnal Tob Control

popularitas rokok elektronik sangat berkembang pesat di amerika dan juga di negara kita Indonesia. rokok elektronik vape tidak membutuhkan pembakaran tembakau untuk men-delivery nikotin ke dalam tubuh melainkan melalui aerosol.



Kandungan bahan atau zat di dalam liquid vape

kandungan liquid vape terbuat dari air, propylene glycol (PG), glycerin, nikotin dan zat perasa. faktor yang berkontribusi terhadap efek inhalasi ini yaitu kondisi iklim, sirkulasi udara, ukuran ruangan, jumlah pengguna dalam satu tempat, voltase batere, lama sedotan, interval antara sedotan, dan karakterisitik pengguna (umur, jenis kelamin, pengalaman, status kesehatan) 

glycol dan glycerol / gliserin pada vape merupakan kandungan utama, bahan-bahan ini digunakan di industri teater dan pelatihan kegawatdaruratan penerbangan, dan diketahui sebagai iritan saluran napas atas. kontak dengan uap glycol mungkin dapat menyebabkan keringnya membran mukosa dan mata. Gliserin sudah digunakan sebagai obat intik meningkatkan efikasi dari obat obat hirup atau inhalant, bahan ini memiliki sihat yang hidroskopik yang menarik air ke sekresi bronkial dan mengurangi viskositasnya. Gliserin dan propylen glycol tidak menyebabkan efek keracunan atau cytotoxic pada stem sel embrionik manusia, stem sel sarah tikus, dan sel fibroblas paru-paru manusia yang terpapar oleh cairan refill rokok elektronik. mengenai keamanan bahan ini tergantung dari lama pajanan terhadap bahan-bahan tersebut dan belum ada cukup data mengenai  keamanan penggunaan jangka panjangnya.

Nikotin mudah diserap melalui saluran napas, kulit, selaput lendir dan saluran pencernaan. paparan akut nikotin yang terhirup dapat menyebabkan pusing, mual, atau muntah. Reaksi toksik terkait dengan paparan nikotin di kulit telah dijelaskan setelah terkena  tumpahan cairan yang mengandung nikotin atau kontak dengan daun tembakau. kasus-kasus serius dari keracunan nikotin karena rokok relatif jarang terjadi,  muntah spontan biasanya menghambat penyerapan nikotin akibat menelan tembakau.

Peningkatan risiko toksisitas nikotin ditimbukan karena ketersediaan konsentrasi nikotin tinggi dalam kemasan. dilaporan terjadi kedian bunuh diri dan percobaan bunuh diri selesai dengan melakukan injeksi intravena dan konsumsi oral cairan nikotin yang terdapat dalam botol liquid rokok elektronik. Tingkat paparan nikotin dari penggunaan rokok elektronik sangat bervariasi. Studi sebelumnya telah ditemukan rentang yang lebar pada tingkat kandungan nikotin, variabilitas dalam aerosolisation, label produk tidak akurat, dan nikotin tidak konsisten selama penggunaan produk. Dalam satu studi, cairan rokokk elektronik yang diperoleh di toko-toko ritel melalui penjualan online. Cairan yang diuji mengandung antara 14,8 dan 87,2 mg / mL nikotin dan konsentrasi diukur berbeda dari konsentrasi dinyatakan hingga 50%.  FDA Divisi Analisis Farmasi dilakukan tes ulang dari tiga kartrid yang berbeda dengan label yang sama dan menemukan tingkat nikotin bervariasi 26,8-43,2 g nikotin / 100 mL puff. dengan tidak adanya standar kualitas, konsistensi produk rokok elektronilk merupakan masalah yang signifikan. pelabelan produk juga tidak konsisten dan berpotensi menyesatkan.

sampai saat ini evaluasi komponen lain pada rokok elektronik tidak ditemukan efek terhadap kesehatan yang serius, namun penemuan harus diintepretasikan dengan perhatian karena terbatasnya data dan tidak adanya metode pengujian yang terstandar. walaupun 50 jenis racun yang terdapat di rokok konbvensional tidak ditemukan pada rokok elektronik, racun seperti nitrosamine dan dietil glycon madih ditemukan dalam jumlah minimal. emisi partikel / particulate matter (PM) melebihi guideline kualitas udara oleh WHO namun 15 kali lebih rendah daripada roko tradisional. 

Efek fisiologis vape terhadap tubuh kita
  • ititasi mulut dan tenggorokan dan batuk kering pada penggunaan awal, meskipun keluhan menurun dengan terus menggunakan
  • tidak ada perubahan dalam denyut jantung, tingakt karbon monoksida (CO), atau tingkat nikotin plasma
  • penurunan pecahan oksida nitrat yang dihembuskan (Feno) dan meningkatkan impedansi pernapasan dan hambatan aliran pernafasan mirip dengan penggunaan rokok
  • tidak ada perubahan dalam hitung darah lengkap (CBC) indeks
  • tidak ada perubahan dalam fungsi paru-paru
  • tidak ada perubahan dalam fungsi jantung yang diukur dengan echocardiogram
  • tidak ada peningkatan penanda inflamasi
Walaupun sampai saat ini belum ada laporan mengenai efek rokok elektronik terhadap kesehatan, masih diperlukan studi / penelitian dengan metode standar dan waktu penelitian yang lebih panjnag untuk mengetahui efek jangka panjang penggunan roko elektronik / vape. tetap lebih baik tidak merokok agar kualitas udara kita tetap terjaga dengan baik
htt*ps://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3995250/